Halaman depan Museum atau monumen gempa bumi 2006 yang ada di desa Cepokosawit Sawit, Boyolali.
Boyolali - Museum gempa bumi 2006 berdiri kokoh di antara sawah-sawah yang ada di samping kanan, kiri dan belakang museum, Cepokosawit Sawit, Boyolali. Museum dengan koleksi barang-barang yang terkait dengan sejarah gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 tampak seperti bangunan yang baru saja berdiri.
Hanya segelintir dokumen dan benda-benda yang berhasil di kumpulkan. Namun demikian dokumen dan benda-benda teraebut dapat memberikan gambaran kepada pengunjung betapa dahsyatnya gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006.
Om Poang menerangkan setiap detail koleksi yang ada di museum itu. "Saya tidak menghafalkan sejarahnya , tapi karena sudah di tunjuk sebagai penjaga sekaligus pengurus museum, lama-lama saya bisa memahaminya," katanya.
Benda-benda yang tertinggal tersebut merupakan saksi bisu dan merupakan bagian dari korban. Seandainya benda-benda tersebut dapat berbicara mereka pasti akan bercerita tentang terjadinya gempa dahsyat pada waktu itu.
Koleksi benda-benda yang di letakkan di dalam ruangan tertata rapih dan dokumen seperti foto setelah terjadinya gempa bumi yang dicetak menggunakan bahan banner di tempel di dinding-dinding ruangan seakan menceritakan betapa hebatnya gempa bumi saat itu.
Di luar monumen atau museum terdapat sebuah patung yang terdiri dari bagian-bagian seperti Bola dunia yang berarti gempa bumi, dua puluh tujuh lembar daun pada tiga sayap yang berarti tanggal 27, lima bulatan dibawah bola dunia yang berarti bulan Mei, angka 2006 di puncak monumen yang berarti tahun 2006, kotak segi empat pada tiga sayap masing-masing lima yang berarti pukul 05:55, dua belas kelopak bunga sakura di tenggah yang berarti desa Cepokosawit dua belas dukuh, dua belas kotak segi empat di dasar yang berarti desa Cepokosawit dua belas dukuh, sembilan bulatan ditengah badan monumen yang berarti sembilan dukuh terkena dampak, dan yang terakhir yaitu tiga bunga segi empat di atas bulatan yang berarti tiga dukuh dampak terparah.
Museum atau monumen ini dibangun secara swadaya masyarakat, yang di inisiatori dan di disain oleh Soekoyo, SH.MH kemudian mulai di bangun pada tanggal 17 Februari sampai dengan 4 April 2016.
Di museum terdapat patung Gajah Putih yang diyakini dulunya merupakan gajah putih milik kyai Rebo pelet. Jadi pada zaman dahulu ada dua seorang kyai sakti yaitu kyai merapi dan kyai rebo pelet yang kaya raya juga mempunyai emas yang sangat banyak. Kedua-duanya sangat gemar main judi yaitu adu burung gemak, mereka berdua beradu burung gemak pada pertandingan yang pertama kyai rebo pelet menang dan kyai merapi memberikan sejumlah emas yang telah di janjikan sebelum pertandingan dimulain jika yang kalah harus memberikan sejumlah emas kepada yang menang, dan pada hari berikutnya di lakukan pertandingan lagi namun hasilnya tetap sama yaitu pemenangnya kyai rebo pelet, karena burung gemak kyai merapi kalah kyai merapi pun curiga telah terjadi hal yang tidak wajar ternyata benar kyai rebo pelet telah bermain licik yaitu burung gemak yang diadu adalah bukan burung gemak biasa melainkan burung gemak jelmaan manusia, mengetahui hal tersebut kyai merapi murka,kyai rebo pelet lari dengan menaiki gajah putih miliknyabdan membawa hasil judinya, kyai merapi pun melempari kyai rebo pelet dengan menggunakan batu-batu, dan kyai rebo pelet dapat u memacu gajah dengan cepat sehingga- dapat terhindar dari lemparan batu Batu-batu lemparan kyai merapi dicritakan sampai di desa mungup yang jaraknya kurang lebih 2 km sebelah barat daya lokasi gajah putih ini, dan batu-batu besar tersebut masih ada sampai sekarang yang tersebar di tanah ladang warga Sesampainya didukuh senden gajah terperosok kedalam tanah yang berlumpur gajah berusaha bangkit untuk melewati lumpur namun tidak berhasil, gajah dan emas bawaannya terpendam kedalam lumpur sedangkan kyai rebo pelet lari menyelamatkan di meninggalkan gajahnya. Akhirnya gajah tersebut menjadi batu. Cerita asal usul tersebut diceritakan oleh Bapak Suseno sesepuh desa Cepokosawit.

